MAHKAMAH KONSTITUSI:PASANGAN SUKA HAMDI AKHIRNYA BERHASIL MELENGGANG KE KURSI BUPATI DAN WAKIL BUPATI KABUPATEN TEBO *MONEY POLITIC TIDAK MENGARAH PADA PELANGGARAN SECARA TERSTRUKTUR ,SISTIMATIS, DAN MASIF*DALIL-DALIL KEBERATAN PASANGAN YOPI-SAPTO TIDAK TERBUKTI DAN TIDAK BERDASARKAN HUKUM * HUMAS PROVINSI KEBOBOLAN BERITA ISTRI GUBERNUR AKIBATNYA NAMA BAIK GUBERNUR JAMBI TERCEMAR*SAMISAKE:100 juta untuk pendidikan di tiap kabupaten*WAKIL GUBERNUR:Arah Pembangunan Provinsi Jambi berwawasan Lingkungan*SAMISAKE:22 Milyar untuk bedah rumah di tiap kabupaten*Pemerintah Jambi beri bantuan dana 3,6 milyar untuk renovasi gedung Taman Budaya*Warga masih saja mengeluh soal pelayanan PDAM Tirta Mayang *HBA optimes Jambi Emas terwujud*2011 Pemerintah Jambi gulirkan dana bantuan 5 juta untuk Pengrajin*Pemprov Jambi dan PTPN VI bersama membangun Jambi*SAMISAKE:Satu Milyar Satu Kecamatan * Anggota Korpri harus Netral *

2/28/2011

Kode Etik Menjaga Independensi



            Kode Etik Jurnalistik menempatkan independensi sebagai prinsip pertama yang harus dimiliki jurnalis, juga media, dalam menjalankan profesinya. Sebagai mata dan telinga masyarakat, sikap independen jurnalis dan media sangat penting agar publik bisa mengambil tindakan berdasarkan informasi yang betul-betul obyektif, bukan dari informasi yang lahir karena keberpihakan jurnalis dan media terhadap kepentingan kelompok tertentu –apakah itu kepentingan pemilik media atau pemasang iklan.
           
Sikap profesional juga tak kalah penting bagi jurnalis dan media. Adanya Kode Etik Jurnalistik, sebagai bagian dari etika profesi, sejatinya diharapkan dapat menjadi panduan bagi jurnalis dalam menjalankan profesinya, dan media saat mengoperasionalkan medianya. Salah satu sikap profesional yang disebut tegas dalam kode etik adalah tak menyalahgunakan profesi dan tak menerima suap. Prinsip-prinsip penting ini memang merupakan soal yang menjadi kepedulian -–kalau bukan keprihatinan-- komunitas media setelah era Orde Baru.
            Tantangan yang dihadapi media saat ini relatif berbeda dengan di masa Orde Baru. Negara, yang di masa lalu merupakan momok penting bagi kebebasan pers melalui sensor dan pembredelan, kini tak seperkasa dulu. Namun, ancaman sensor dan intervensi tak lantas menghilang. Saat ini, sensor itu bisa datang dengan cara dan oleh pelaku yang berbeda. Salah satunya adalah dari pemasang iklan dan pemilik media. Inilah yang menjadi salah satu tantangan besar bagi independensi dan profesionalisme media saat ini.
           
Pasca reformasi, sejarah pers di Indonesia mengalami banyak kejadian yang signifikan yaitu berkembangnya kebebasan pers, kebebasan berserikat bagi para wartawan, dan peningkatan jumlah penerbit pers yang luar biasa. Data terakhir dari SPS menunjukkan, jumlah media cetak di Indonesia mencapai 829. Angka yang luar biasa.
            Namun masih banyak masalah di balik capaian-capaian itu. Kebebasan pers tidak serta merta berhubungan lurus dengan profesionalisme dan independensi media massa. Masih banyak terjadi praktek-praktek jurnalistik yang melanggar kode etik jurnalistik. Salah satunya adalah hubungan yang tidak profesional antara jurnalis dengan pemerintah. 
            Survei AJI pada 2008 yang meliputi 80 media  di 17 kota menunjukkan situasi yang masih sangat menyedihkan menyangkut kesejahteraan jurnalis. Dari 400 responden yang diwawancarai, sebagian besar gaji jurnalis berada pada rentang Rp 600 ribu – Rp 999 ribu/bulan (22,5%), Rp 1 juta – Rp 1,399 juta/bulan (25%), dan Rp 1,4 juta – 1,799 juta/bulan (16,5%). Mereka yang bergaji adi atas Rp 5 juta/bulan hanya berjumlah 1,3%. Bahkan masih ada jurnalis yang digaji di bawah Rp 200 ribu.
            Kesejahteraan yang rendah merupakan pemicu munculnya praktik pemberian suap kepada jurnalis, selain keinginan politik dari pemerintah untuk mengontrol berita. Simbiosis tidak profesional itu masih terjadi. Survey yang sama dari AJI menunjukkan bahwa sekitar 65% jurnalis menerima suap (amplop).


Independensi Jurnalis




Oleh Ilham MHD Yasir
(Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Pekanbaru)

            "... DI tangan-orang yang moralitasnya rendah, kebebasan pers menjadi kebebasan menjual berita sesuai selera pasar. Di tangan wartawan busuk, kebebasan pers menjadi kebebasan memperdagangkan berita sebagai sebuah komoditas".          Demikian T Yulianti mengakhiri opininya di Kompas, Februari 2004 yang dikutipnya dari buku News For Sale milik Malon Mangahas, seorang mantan redaktur Manila Times.
           
            Sementara Tony Kleden, menulis "... dalam jurnalistik, berlaku hukum tak tertulis. Wajah media adalah wajah pengelolanya. Medianya baik tentu pengelolanya profesional. Medianya setengah-setengah tentu pengelolanya juga setengah-setengah hati. Medianya amburadul, tentu seperti itulah kondisi sang pengelolanya."

Pengertian Independensi
            Berasal dari kata Independen. Dalam bahasa Inggris diartikan sebagai ”Independent” (merdeka, mandiri, tidak bergantung dengan orang lain) dan  ”Independence”  (kemerdekaan, kemandirian).[1]  Jurnalis independen adalah jurnalis yang mandiri, merdeka dan tak bergantung kepada pihak mana pun. Ia punya sikap mandiri untuk mempertahankan prinsip kebenaran (lihat 9 Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach (mantan jurnalis Atlanta Journal Constitution) dan Tom Rotesentiel (mantan jurnalis The Los Angeles Times)).[2]  
           
            Aliansi Jurnalis Independen (AJI) merumuskan Independensi berdasarkan Deklarasi Sirnagalih, 7 Agustus 2004 bahwa Pers Indonesia   menolak segala bentuk campur tangan, intimidasi, sensor, dan pembredelan pers yang mengingkari kebebasan berpendapat dan hak warga negara memperoleh informasi. Bahwa pers Indonesia berangkat dari pres perjuangan yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, serta melawan kesewenang-wenangan. Kemerdekaan ini oleh AJI dituntut dengan menolak wadah tunggal organisasi profesi wartawan (jurnalis).[3]


               

            


Menjaga Independensi



            Ada beberapa prinsip, tapi satu hal yang paling penting adalah: wartawan (atau bagian redaksi) harus memegang kata akhir untuk urusan berita – bukan bagian bisnis. Bukan juga pemilik surat kabar. ”Ini merupakan prinsip yang jelas!” kata Bill Kovach. ”Aturan ada pada saya, dan kami akan memveto advertorial jika kami melihat ada masalah di sana. Kami juga harus melihat untuk memastikan mereka diberi label iklan secara pantas,” kata Redaktur Eksekutif Washington Post Leonard Downie Jr, tentang bagaimana mereka menegakkan independensi tersebut.
            Bagi wartawan senior Andreas Harsono sering memberi contoh bagaimana prinsip dan praktik independensi ditegakkan. Suatu saat dia diminta mengonsep dan kelak mengelola sebuah majalah politik. ”Seperti Atlantic Monthly itulah,” kata pengasuh Yayasan Pantau yang dulu mengelola majalah Pantau ini. Majalah yang dirujuk itu menulis isu-isu politik hangat, dengan analisa yang tajam tetapi dengan bahasa yang mudah dicerna.
            Selesai hitung-hitungan modal, Andreas mengajukan satu syarat penting: redaksi harus independen dari pemilik modal, termasuk boleh mengkritik dan memberitakan kalau pemilik modal salah. Pemodal sulit menerima syarat ini. Saya tak tahu apakah karena syarat itu kemudian majalah tersebut belum terbit sampai saat ini. Tapi, bagi Andreas sepertinya memang lebih baik tidak terbit daripada harus berkompromi dalam hal independensi ini.
            Dapat dibayangkan bagaimana ”tersiksa” redaksi ketika pemilik modal memanfaatkan suratkabarnya untuk kepentingan lain, bisnis di luar media misalnya. Saya membayangkan bagaimana independensi sudah benar-benar hilang ketika berita-berita di suratkabar diarahkan untuk menekan pihak-pihak lain demi kepentingan si pemilik modal. Ini adalah pelecehan pada kebebasan pers.
            Kita pasti ingat dengan adagium ini: Kemerdekaan pers adalah milik masyarakat. Kemerdekaan itu dipinjamkan dan dipakai oleh pekerja pers, untuk melayani masyarakat si pemilik kemerdekaan itu. Undang-undang Pers Nomor 40 tahun 1999 menegaskan itu: Kemerdekaan Pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.[1] (Pasal 4 Ayat 1).


                [1] Lihat pasal 4 (1) UU No 40/1999 tentang Pers


2/20/2011

Gubernur beri penghargaan pada tujuh penulis cilik



Jambi, Gubernur Jambi Drs. H. Hasan Basri Agus, MM, memberikan penghargaan kepada delana penulis cilik Jambi yang telah berhasil meneribitkan Antologi Cerpen “Kesomobongan Fira”. Penghargaan diserahkan gubernur pada acara peluncuran buku tersebut, Sabtu (29/1) bertempat di Yayasan Pendidikan Nurul “Ilmi, di jalan Julius Usman Kelurahan Pematang Sulur Kota Jambi.
Delapan penulis cilik yang sekolah di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Nurul ‘Ilmi yang mendapatkan penghargaan dari gubernur ini masing-masing terdiri dari; Dina Pratiwi pelajar kelas V yang menghasilkan cerpen berjudul “Kesombongan Fira”, Nurul Anisah kelas V dengan cerpen berjudul “Surat Rahasia”, Wulan Anisa dengan cerpen “My Mom is HERO”, Siti Ramadina kelas VII dengan cerpen “Cinta yang Kesepuluh”, Abdan Malaka kelas VI dengan cerpen “A Happy Family”, Jihan Romadhan kelas IV dengan judul cerpen “Perjuangan Untuk Sahabat”, Rafli Khairul Anam kelas VI dengan judul cerpen “13 Februari Bina” dan Mega Juita kelas VI yang menghasilkan cerpen “pengakuan terindah”.
Seusasi acara peluncuran Antologi Cerpen “Kesomobongan Fira, gubernur menyampaikan rasa bangganya atas prestasi yang telah ditunjukkan kedelapan anak-anak Jambi tersebut, “ yang pertama, saya merasa bangga atas perkembanagan daeri Yayasan Pendidikan Islam Terpadu Nurul ‘Ilmi atas kreasi dan kreaktivitas dalam meningkatkan sumberdaya anak-anak kita, dan yang kedua yang lebih membanggakan prestasi yang telah ditunjukkan oleh anak-anak kita yang belajar di sekolah ini, seperti delapan anak tadi yang telah berhasil menerbitkan buku kumpulan cerpen, yang isinya sangat bagus, berbobot dan mendidik, saya sudah sempat membaca sebagian” jelas gubernur.
Disampaikan juga oleh gubernur, buku kumpulan cerpen yang dihasilkan anak-anak ini, saat ini baru diedarkan di lingkungan sekolah, kedepan akan diusahan untuk memasarkan ke sekolah-sekolah yang ada di Jambi, dan hal ini sudah dibicarakan dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, karena di Dinas tersedia dana pengadaan buku,  disamping harus diusahakan mendapatkan hak cipta bagi kedelapan anak-anak ini, dengan demikian tentunya anak-anak ini sudah bisa memperoleh pengahasilan. Dengan demikian maka ini akan membuat anak-anak akan semakin terpacu untuk lebih kreaktif, dengan demikian diharapkan akan menjadi pemicu bagi sekolah-sekolah lainnya, baik negeri maupun swasta untuk bisa meraih prestasi, baik di tingkat daerah, nasional bahkan lebih dari itu.  
Sedangkan Kepala Dinas pendidikan Provinsi Jambi Idham Kholid, pada kesempatan ini menyampaikan apresiasinya atas prestasi yang diraih para pelajar di sekolah Nurul ‘Ilmi ini, disamping delapan anak yang telah berhaisl menerbitkan kumpulan cerpen, ada juga siswanya yang telah berhasil meraih juara penulisan puisi tingkat nasional dan meraih piala Presiden RI, kemudian pinalis lomba melukis tingkat nasional. Bahkan pada kesempatan ini juga telah diperlihatkan oleh anak-anak yang telah menampilkan beberapa kreaktivitas termasuk tiga anak yang membawakan acara pada acara ini, terlihat demikian baiknya dalam membawakan acara, masing-masing berbahasa Indonesia, Ingris dan Arab.
Sebelumnya Ketua Yayasan Pendidikan Islam Terpadu Nurul ‘Ilmi, Hendri Mansyur menyampaikan, bahwa apa yang dihasilkan anak-anak adalah sepenuhnya kreasi anak-anak, mulai dari menulis, ilustrasi dan sampulnya. Dan apa yang dihasilkan memang apa yang ditemua anak-anak sehari-hari, ujarnya. Namun tidak semua bisa menulis runtun seperti apa yang dihasilkan anak-anak tersebut. (Sunarto)


1/20/2011

WAGUB TINJAU KORBAN KERUSUHAN DI KERINCI



            Jambi, Wakil Gubernur (Wagub) Jambi, Drs. H. Fachrori Umar, M.Hum dan rombongan dari Pemerintah Provinsi Jambi meninjau korban kerusuhan di Desa Kemantan, Kecamatan Air Hangat Timur dan Desa Pendung Hilir, Kecamatan Air Hangat, Kabupaten Kerinci, pada Minggu (16/1).
            Sebelumnya (13/1), terjadi kerusuhan antar pemuda kedua desa tersebut, yang bermula dari perselisihan pemuda dalam acara hiburan malam, yang kemudian mengakibatkan meninggalnya seorang pemuda Desa Kemantan, Kecamatan Air Hangat Timur, Deka Ardian. Meninggalnya Deka Ardian ini kemudian menjalar menjadi kerusuhan yang mengakibatkan terbakarnya 24 rumah warga Desa pendung Hilir (15 unit rumah rusak total, 1 unit rumah rusak berat, 1 unit rumah rusak sedang, dan 7 unit rumah rusak ringan).
            Pada sesi pertama tinjauan tersebut, Wagub mengunjungi keluarga korban yang meninggal. Pada kesempatan tersebut, ditemui kedua orangtua Deka Ardian, Yurmanudin dan Rosina, serta para kerabat dan tetangga korban. Wagub menyatakan agar keluarga Deka Ardian, terutama kedua orangtuanya senantiasa tabah menghadapi kenyataan dan tekun berdoa, karena Allah yang memampukan keluarga dan kerabat untuk menghadapi dan mengatasi duka dan pilu sepeninggal Deka Ardian.
            Wagub juga mengemukakan, agar jangan ada lagi rasa dendam pada keluarga dan kerabat korban, namun agar bisa saling berdamai dan saling memaafkan diantara pihak yang bertikai, sembari menekankan supaya jangan sampai terulang lagi kejadian seperti ini.
            Sebelum beranjak dari kediaman orangtua Deka Ardian, Wagub memberikan bantuan berupa uang sebesar Rp 7.500.000,- kepada orangtua Deka.
            Kepala Desa Kemanten mengatakan bahwa mereka sangat kehilangan dengan meninggalnya Deka Ardian. Kepala desa Kemanten ini menuturkan bahwa Deka (umur 17 tahun, kelas 3 MAN) sebelumnya bertugas sebagai pemegang kunci sekolah tempat ia belajar. 
Kedua orangtua Deka Ardian, Yurmanudin dan Rosina mengatakan sangat berterimakasih atas kedatangan Wagub mengunjungi mereka sebagai wujud kepedulian pejabat pemerintah kepada masyarakatnya.  
Pada sesi kedua tinjauan, Wagub melihat langsung kondisi rumah-rumah yang terbakar di Desa Pendung Hilir, Kecamatan Air Hangat, serta berbincang-bincang dengan para pemilik dan penghuni rumah-rumah yang terbakar tersebut.
Di tempat ini, oleh Pemerintah Kabupaten Kerinci dan Polres Kerinci telah didirikan posko untuk tempat para penghuni rumah yang terbakar. Di tempat ini, telah dikumpulkan masyarakat yang rumahnya terbakar, para tokoh masyarakat, para tokoh agama, dan masyarakat Desa Pendung Hilir. Di sini, Wagub memberikan arahan bagi keseluruhan masyarakat yang hadir.
Dalam arahan yang lebih benuansa ceramah singkat, Wagub menyampaikan :
1.      Agar pertikan tersebut sampai disini, jangan menjalar lagi, serta supaya kejadian seperti itu jangan pernah terulang lagi. Untuk itu, Wagub menghimbau kedua belah pihak untuk saling berdamai dan saling memaafkan, jangan saling mendendam
2.      Agar masyarakat menyadari bahwa sesunguhnya mereka adalah saudara, dengan menyadari persaudaraan itu, maka masyarakat akan bisa hidup berdampingan dengan damai, saling bekerjasama, dan menggalakkan gotong-royong
3.      Meningkatkan siar agama dan silaturahmi. Wagub mengungkapkan, kecenderungan secara umum, siar agama dan silaturahmi masyarakat sudah semakin lemah, yang menyebabkan masyarakat sangat gampang tersulut emosi dan menghadapi masalah dengan cara kekerasan, yang pada akhirnya akan merugikan dan mengorbankan masyarakat itu sendiri
4.      Secara khusus bagi kaum muda, Wagub menghimbau untuk lebih mengaktifkan pengajian pemuda masjid dan kegiatan karang taruna
5.      Bagi seluruh korban, baik keluarga dari korban yang meninggal maupun masyarakat yang rumahnya terbakar, Wagub menghimbau agar semuanya tabah, bersabar, dan tekun berdoa
6.      Wagub mengucapkan terimakasih kepada Bupati Kerinci, H. Murasman dan seluruh jajarannya yang telah pro aktif mengupayakan penyelesaian damai dari permasalahan ini, yang mana setelah sholat Jum’at (14/1), telah dilakukan perjanjian kesepakatan damai antara kedua belah pihak yang bertikai, bertempat di Ruang Pola Kantor Bupati Kerinci dan hal ini telah dilaporkan serta berkas perdamaiannya telah diantarkan secara langsung oleh bupati Kerinci kepada Gubernur Jambi
7.      Wagub juga mengucapkan terimakasih kepada segenap jajaran petugas keamanan yang telah menjalankan tugas dan tangggung jawabnya dengan baik.
Usai menyampaikan arahan, Wagub memberikan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jambi kepada seluruh korban, keluarga dari korban yang meninggal dunia dan yang rumahnya terbakar. Total bantuan tersebut adalah Rp 132.500.000,- (seratus tigapuluh dua juta lima ratus ribu rupiah), dengan rincian Rp 7.500.000,- untuk keluarga Deka Ardian (korban meninggal), Rp 7.500.000,- untuk keluarga yang rumahnya terbakar dan rusak total (sebanyak 15 rumah), Rp 2.750.000,- untuk keluarga yang rumahnya terbakar dan rusak berat (1 rumah), Rp 2.750.000,- untuk keluarga yang rumahnya terbakar dan rusak sedang (1 rumah), dan Rp 1.000.000,- untuk keluarga yang rumahnya terbakar dan rusak ringan (7 rumah). Sementara itu, Sekretariat Daerah Kabupaten Kerinci juga memberikan bantuan sebesar Rp 5.000.000,-. Bantuan tersebut diterima oleh Sekretaris Desa Pendung Hilir, Sakirman.
      Bupati Kerinci, H. Murasman dalam sambutannya menyampaikan supaya orangtua benar-benar membina anak-anaknya dengan baik dan agar anak muda menghargai orangtua.
      Senada dengan himbauan Wagub, Bupati kerinci ini juga menghimbau agar pemuda menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, namun mengikuti hal-hal yang baik, diantaranya menggalakkan kegiatan karang taruna dan pengajian di masjid, sebagai salah satu upaya untuk memperkokoh keimanan dan membentengi karakter pemuda menjadi karakter yang baik.
Sebelumnya, Sekda Kerinci, Dasra mengungkapkan bahwa permasalahan ini diselesaikan dengan jalur hukum yang berlaku dan dengan cara adat.
Turut mendampingi Wagub dalam tinjauan tersebut, Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi  Jambi, Ir. Haviz Husaini, MM, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jambi, Raflinur, SH, petugas Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Provinsi Jambi, Bupati Kerinci, H. Murasman dan jajarannya, dan Walikota Sungai Penuh, Akmal Thaib dan jajarannya.


Wagub Buka Seminar Kewirausahaan


Jambi- Wakil Gubernur Jambi Drs.H.Fachrori Umar,M.Hum membuka secara resmi seminar kewirausahaan dengan tema Jambi Economic Outlook  2011 Menuju Jambi Emas 2015, Senin (17/1) bertempat di gedung Rektorat Universitas Jambi, Mendalo. Seminar ini terselenggara atas kerjasama Pemerintah Daerah, Universitas Jambi dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Jambi.Dan sebagai narasumber Ketua Umum HIPMI Pusat Erwin Aksa. Acara ini dihadiri oleh civitas akademi, Ketua BPD HIPMI Provinsi Jambi Kemas Al Farizi Arsyad SE,dan perwakilan pejabat Bank BTN serta undangan.
             Dalam wawancaranya ketika ditemui wartawan usai acara Wagub menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah positif yang dapat memotivasi generasi muda dalam upaya menciptakan peluang usaha dan menumbuhkan jiwa wirausaha.“Kegiatan ini merupakan bentuk sinergitas antara pemerintah, pihak akademis dan HIPMI dalam upaya memotivasi generasi muda untuk berwirausaha dan berperan dalam membangun perekonomian di Provinsi Jambi”ungkapnya.
            Lebih sambut dalam sambutan tertulisnya Wagub juga memaparkan kondisi ekonomi dan permasalahan yang dihadapi oleh Provinsi Jambi. Dan kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kerjasama dari semua stake holder pembangunan.
            “Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan peranan setiap stake holder dalam pembangunan dan bahu membahu untuk memperkuat ekonomi basis, membangun lokus ekonomi baru yang kita miliki, meningkatkan kegiatan sector riil dan mendorong aspek-aspek non ekonomi yang berpengaruh terhadap siklus stabilitas ekonomi kita” paparnya.
            Sementara itu Rektor Universitas Jambi H.Kemas Arsyad Somad, SH.MH dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan menumbuhkan motivasi generasi muda terhadap dunia usaha.
            “Kegiatan ini dapat menggerakkan generasi muda untuk mencontoh para pengusaha muda yang telah terjun dan berhasil dalam membangun kariernya melalui dunia wirausaha, dan diharapkan mampu mencetak pengusaha-pengusaha muda yang membuka lapangan pekerjaan sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membantu usaha pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan” jelasnya.
            Ketua BPD HIPMI Provinsi Jambi Kemas Al Farizi Arsyad SE menjelaskan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi  komitmen HIPMI untuk merobah pola pikir anak muda untuk tidak lagi menganggap PNS adalah segalanya. “Dunia usaha juga wajib dijadikan sesuatu yang lebih menjanjikan. Kesiapan dalam memberikan kontri­busi bagi pembangunan Jambi ini. HIPMI ke depan juga akan berperan serta dalam usaha berdaya tepat guna, mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam proses teknologi dan menuju profesional­isme” jelasnya.
            Ditambahkan Al Farizi, dengan diadakannya kegiatan ini HIPMI ikut berperan serta dalam melaksanakan program Pemerintah Provinsi Jambi, khususnya dalam menuntaskan pengangguran. “Diharapkan kegiatan HIPMI Goes to Campus ini dapat memotivasi dan menelurkan pengusaha baru di Jambi,dan kegiatan ini merupakan salah satu bentuk keperdulian HIPMI terhadap dunia pendidikan serta membuka peluang bisnis baru kepada generasi muda Jambi”ujarnya.


Gubernur Siap Tandatangani MOU Jalur Kereta Api


Jambi- Gubernur Jambi Drs.Hasan Basri Agus menyatakan siap menandatangani MOU pembangunan rel kereta api dengan perusahaan India Raliance Group. Penandatanganan MOU ini akan dilaksanakan di India pada 25 Januari dihadapan Presiden Republik Indonesia dan Perdana Menteri India. Hal ini disampaikannya setelah bertemu dengan jajaran direksi Raliance Group, Rabu 19/1 bertempat di rumah dinas Gubernur.
            Raliance Anic Dhiru Group adalah perusahaan India yang bergerak di bidang komunikasi, infrastruktur, media dan energi. Perusahaan ini memiliki  perusahaan batu bara di Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan dan tujuan pembangunan jalur kereta api dari Musi Rawas sampai ke Kampung Laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.
            Usai pertemuan Gubernur menjelaskan bahwa pemerintah menyambut baik bentuk kerjasama ini yang diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian di Provinsi Jambi “Raliance group mau menandatangani MOU dengan pemerintah Provinsi Jambi  di india nanti pada 25 Januari, Bapak Presiden akan berkunjung kesana dan saya juga diharapkan hadir untuk menandatangai  MOU dengan Raliance yang akan membangun kereta api dari Musi Rawas yang merupakan lokasi batu bara milik mereka yang akan dibawa ke India melalui Jambi yaitu melalui pelabuhan Muara Sabak” ungkapnya.
            Gubernur juga menegaskan bahwa pemerintah  tetap berkomitmen dan menjaga hubungan baik dengan investor lain yang telah menandatangani  MOU dengan pemerintah Provinsi Jambi yaitu Syinco Global yang melakukan pengerukan sungai Batanghari dan membangun pelabuhan.
            “Permasalahan yang dihadapi saat ini, perusahaan Raliance Group belum mengenal  Provinsi Jambi,sebelumnya kita telah menandatangani MOU dengan Syinco Global yaitu untuk mengeruk dan membangun pelabuhan  untuk batu bara untuk itu pemerintah akan menandatangani MOU dengan Raliance Group hanya untuk membangun kereta api, tidak pelabuhan, hal ini dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih dan menjaga kepercayaan investor kepada pemerintah” jelasnya.
            Pemerintah akan tetap berkomitmen untuk menjamin  kepercayaan para investor yang akan berinvestasi di Provinsi Jambi.” Kepercayaan dari pengusaha harus kita jaga, sebab jika tidak dijaga maka tidak ada yang mau berinvestasi, jangan sampai semua pengusaha yang datang dilakukan penandatanganan MOU”ungkapnya


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More