MAHKAMAH KONSTITUSI:PASANGAN SUKA HAMDI AKHIRNYA BERHASIL MELENGGANG KE KURSI BUPATI DAN WAKIL BUPATI KABUPATEN TEBO *MONEY POLITIC TIDAK MENGARAH PADA PELANGGARAN SECARA TERSTRUKTUR ,SISTIMATIS, DAN MASIF*DALIL-DALIL KEBERATAN PASANGAN YOPI-SAPTO TIDAK TERBUKTI DAN TIDAK BERDASARKAN HUKUM * HUMAS PROVINSI KEBOBOLAN BERITA ISTRI GUBERNUR AKIBATNYA NAMA BAIK GUBERNUR JAMBI TERCEMAR*SAMISAKE:100 juta untuk pendidikan di tiap kabupaten*WAKIL GUBERNUR:Arah Pembangunan Provinsi Jambi berwawasan Lingkungan*SAMISAKE:22 Milyar untuk bedah rumah di tiap kabupaten*Pemerintah Jambi beri bantuan dana 3,6 milyar untuk renovasi gedung Taman Budaya*Warga masih saja mengeluh soal pelayanan PDAM Tirta Mayang *HBA optimes Jambi Emas terwujud*2011 Pemerintah Jambi gulirkan dana bantuan 5 juta untuk Pengrajin*Pemprov Jambi dan PTPN VI bersama membangun Jambi*SAMISAKE:Satu Milyar Satu Kecamatan * Anggota Korpri harus Netral *

7/20/2011

Seruan menggalakkan Pancasila



Sekolah disarankan mengefektifkan kembali pendidikan Pancasila
Sejumlah pihak mengusulkan agar pelajaran Pancasila lebih digalakkan lagi di tengah masalah ekstrimisme dan dugaan rencana pendirian negara Islam oleh gerakan NII.
Pancasila penting dihidupkan lagi meski di jaman Orde Baru penyebutan Pancasila sering dianggap sebatas retorika, kata Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan.

"Menggunakan terminologi Pancasila itu sangat penting untuk mengingatkan seluruh bangsa bahwa ideologi bangsa ini, landasan berbangsa adalah Pancasila," tutur Anies.
Oleh karena itu, dia mengaku kerap menyerukan agar wacana Pancasila dikembalikan ke wacana alur utama di Indonesia.
"Dengan begitu kita terjebak dalam pandangan, satu sisi yang liberal yang menganjurkan agar negara ini dijauhkan dari segala macam prinsip yang berdekatan dengan agama".
"Atau di sisi lain, kita tidak terjebak dalam wacana yang menganggap bahwa negara ini harus diatur melalui agama," kata rektor Universitas Paramadina.
Di tingkat sekolah, pendidikan Pancasila mulai dilebur ke dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada 2006 sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional . Kondisi ini berbeda sekali dengan jalan Orde Baru ketika Pancasila merupakan materi yang dominan dan bahkan sampai dikemas dalam bentuk penataran-penataran.
Namun Kepala Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional Diah Harianti mengatakan hanya namanya saja yang berbeda.


BI : Dirut Bank Mega Akan Di-fit & Proper Tes


Logo Bank Mega
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengatakan Direktur Utama PT Bank Mega Tbk (MEGA) JB Kendarto akan menjadi salah satu pejabat bank yang harus melakukan fit and proper test terkait pembobolan dana PT Elnusa Tbk (ELSA) dan Pemda Batubara.

"Ya (Dirut Bank Mega) salah satunya," ujar Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Wimboh Santoso dalam seminar bertajuk Banking Leadership and Bank Fraud in Asia di Hotel Grand Indonesia Kempinski, Jakarta,beberpa waktu lalu.

Wimboh juga menyampaikan, sanksi yang diberikan berupa fit and proper test kepada Bank Mega dan Citibank sebelumnya diharapkan akan menjadi pelajaran bagi bank lain.

"Harapan kita begitu. Ini merupakan juga supaya menjadi pelajaran dari bank-bank lain. Jadi silakan bank lain dievaluasi, jangan sampai ada yang terjadi seperti yang terjadi kasus-kasus di bank lain," jelasnya.

Dia juga menjelaskan escrow account menjadi bagian dari sanksi yang diberikan kepada Bank Mega, dia menjelaskan skema pencairannya harus melalui persetujuan BI. Dijelaskan Wimboh escrow account tersebut merupakan pencadangan dari aset Bank Mega untuk mengganti dana nasabahnya.

Seperti yang di langsir okezone,"Tentunya itu nanti harus persetujuan BI. Artinya ada aset yang di blok sekian. Bukan pencadangan, pencadangan beda Ini diambil dari aset, ya aset ini jangan diapa-apain untuk mengganti dana nasabah. Kalau masalah selesai, semua sepakat pengadilan selesai. Itu tergantung nanti bagaimana kesepakatan, kalau terjadi kesepakatan baru bisa dicairkan," pungkasnya.


Bank Dunia: dunia terancam krisis besar


Zoellick juga menekankan pentingnya keamanan dan keadilan di Timur Tengah dan Afrika Utara
Ketua Bank Dunia Robert Zoellick memperingatkan bahwa dunia tidak jauh dari "satu goncangan yang bisa menyebabkan krisis ekonomi besar-besaran".
Robert Zoellick menyebut kenaikan harga pangan sebagai ancaman utama bagi negara-negara miskin yang "terancam akan kehilang satu generasi".
Ia mengatakan hal itu di Washington pada akhir sidang awal tahun Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional.
Sementara itu para menteri keuangan G20 yang bersidang di Washington berjanji memberi bantuan keuangan kepada pemerintah-pemerintah baru di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Zoellick mengatakan dukungan seperti itu sangat penting.
"Krisis di Timur Tengah dan Afrika Utara menggaris bawahi perlunya menerapkan kesimpulan dari laporan terbaru PBB mengenai pembangunan dunia. Laporan itu menyoroti pentingnya keamanan, keadilan dan pekerjaan bagi warga," katanya.
Ia juga menyerukan agar Bank Dunia bertindak cepat untuk mendukung reformasi di kawasan itu.
"Menunggu situasi stabil berarti akan kehilangan peluang". Dalam suasana revolusioner status quo tidak akan menguntungan, tambahnya.
Pertemuan di Washington ini juga membicarakan kerusuhan di Timur Tengah, fluktuasi harga minyak dan tingginya angka pengangguran.
Ketua IMF Dominique Strauss-Kahn mengangkat kekhawatiran mengenai tingginya tingkat pengangguran di kalangan kaum muda.(bbc)
"Mungkin keterlaluan untuk mengatakan pemulihan tanpa kerja, namun jelas merupakan pemulihan tanpa cukup pekerjaan," katanya.
"Khususnya karena pengangguran di kalangan kaum muda... ada ancaman keadaan ini akan berubah menjadi hukuman seumur hidup, dan kemungkinan akan hilangnya satu generasi," katanya.


4/09/2011

TPID Jambi Kurang “Greget”

 
TIM Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jambi yang diketuai Asisten II Setda Provinsi Jambi dinilai “kurang greget” mengendalikan inflasi. Apalagi, tidak ada langkah nyata yang dilakukan pasca pertemuan yang dilakukan triwulanan di Bank Indonesia Jambi itu. Kesimpulan ini mengemuka pada Diskusi Bulanan yang digelar di Fraksi Gerakan Keadilan DPRD Provinsi Jambi, Rabu (2/2).
 
Anggota TPID, Prof Amri Amir mengatakan, tim sudah memberi sinyal bakal terjadi lonjakan inflasi pada tahun 2010. agar segera dilakukan langkah antisipasi pasca pertemuan. “Tapi beberapa waktu kemudian, tidak ada yang dilakukan,” ujar Amri.
 
Beda dengan di Pulau Jawa. Dicontohkan Amri Amir, TPID disana begitu agresif menanggulangi inflasi. Misalnya menampung barang dari sentra produksi untuk kemudian menyalurkannya ke pasar. Mereka—lanjut Amri amir, melakukan gerakan produktifitas masyarakat. Misalnya menanam cabai di tiap pekarangan rumah. “Langkah ini sekilas sepele. Namun memberi manfaat sangat  besar bagi daerah,” sambung Amri.
 
Menurut Amri, pasca pertemuan TPID, tidak ada langkah nyata yang dilakukan. Misalnya mengalakkan kegiatan yang bersifat home industri untuk mengurangi pasokan barang dan sebagainya. “Apalagi, banyak SKPD yang belum mengetahui tentang TPID dan apa saja yang dilakukannya,” ujar Amri Amir.
 
Pernyataan ini mendapat dukungan staf Bank Indonesia Jambi, Febby Leorisa. Menurut Febby, Bank Indonesia tidak berkomenten “memaksa” instansi teknis menjalankan rekomendasi tim. Apalagi, banyak hal yang harus dilakukan Pemerintah ditingkat kabupaten/ Kota. Membuat kewenangan Bank Indonesia menjadi lebih terbatas. “Namun Bank Indonesia berwenang mengambil kebijakan dalam hal moneter dan fiskal,” ujar Febby.***


Inflasi di Jambi harus Dikendalikan



 
LAJU Inflasi hingga 10,52 persen sepanjang tahun 2010 menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Pemerintah melalui instansi terkait, diminta mengambil langkah tegas mengendalikan inflasi dengan beberapa stimulus pembangunan sektor perekonomian.
 
Kesimpulan ini terungkap pada diskusi bulanan yang digelar Fraksi Gerakan Keadilan DPRD Provinsi Jambi, Rabu (2/3).
 
Ketua Fraksi GK, Henri Masyhur mengatakan, ibarat penyakit, inflasi tergolong sangat mematikan. Karena berdampak sangat luas ketengah masyarakat. “Bahkan bila dipolitisir, gejala inflasi berdampak sangat fatal bagi pemerintahan,” ujar Henri.
 
Senada, Sekretaris Fraksi Supriyanto SP mengatakan, Jambi masih sangat rentan terhadap gejolak inflasi. Akibat tingginya pasokan dan ketergantungan sembako khususnya bahan makanan dari luar provinsi. “Panjangnya mata rantai distribusi memberi efek domino inflasi semakin tinggi di Jambi,” tukasnya.
 
Turut hadir, Kepala Seksi Sumber Daya Manusia Bank Indonesia Cabang Jambi, Bambang Murdadi, Kepala BPS Provinsi Jambi, Dyan Pramono Effendi beserta Kabid Distribusi dan Nerwilis, Sekretaris Bappeda Provinsi Jambi, Ammar Sholahuddin serta Guru Besar Fakultas Ekonomi Unja, Prof DR Amri Amir.
 
Sekretaris Bappeda, Ammar Sholahuddin mengatakan, Pemerintah telah berupaya menjaga pasokan di pasar. Namun karena Jambi bukanlah daerah produksi, faktor distribusi selama ini masih terhambat arus transportasi dan infrastruktur wilayah.
 
“Untuk melakukan pengendalian terhadap produksi Pemerintah juga terkendala pada kewenangan,” kata Ammar.
 
Untuk mengatasinya, Ammar menyarankan lahir kebijakan menciptakan sentra produksi dibidang komoditi pangan. “Selain memberi stimulus pada kebijakan disektor riil. Misalnya meningkatkan kredit UMKM, Samisake dan Kupem,” tukas Ammar.
 
Khusus pangan, Ammar menilai produksi di tiap daerah belum merata. Apalagi, ada kecenderungan tanaman monokultur mendominasi sebagian besar wilayah. “Upaya menguranginya, dengan memberi insentif pada petani. Sehingga ketergantungan pangan pada daerah lain berkurang yang pada gilirannya, menekan laju inflasi,” sambung Ammar.
 
Kepala BPS Provinsi Jambi, Dyan Pramono Effendi mengatakan, Tingginya laju inflasi pasti berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Karena daya beli yang terus menurun. Namun masyarakat tidak bisa berbuat banyak menghadapi lonjakan harga. “Kecuali hanya mengencangkan ikat pinggang,” tuturnya.
 
Lebih parah, inflasi di Jambi sepanjang tahun 2010 diakibatkan lonjakan harga bahan makanan.”Sehingga menjadi pekerjaan rumah dan kajian bagi pemerintah untuk mengatasinya,” sambung Dyan.
Guru Besar Fak. Ekonomi Unja, Prof Dr Amri Amir mengatakan, delapan faktor utama sehingga inflasi Jambi melebihi target yang ditetapkan. Yaitu adanya kenaikan harga bahan pangan. Khusus Cabai, ternyata tidak terbatas masalah pasokan. Adanya informasi di Media tentang harga cabai di daerah lain memicu agen mengikuti harga yang berlaku di tempat lain. “Ini faktor psikologis yang juga sangat mempengaruhi terjadinya inflasi,” ujar Amri Amir.
Faktorlain, gangguan iklim yang menyebabkan produksi tanaman pangan berkurang. “Kedepan, sangat dibutuhkan lahan minimal (lahan abadi) di tiap daerah untuk pangan. Jika tidak dilakukan, ketahanan pangan Jambi akan terancam,” tukasnya.***


Rp 350 Miliar Uang Petani Jambi Hilang


JAMBI—Sekitar Rp 350 miliar uang petani Jambi secara tidak langsung hilang setiap tahun. Karena harga jual hasil perkebunan lebih rendah dibanding provinsi tetangga. Kondisi infrastruktur yang belum memadai juga membuat tingkat kesejahteraan petani selama dua tahun terakhir masih dibawah kategori sejahtera.

Ketua Fraksi Gerakan Keadilan DPRD Provinsi Jambi, Henri Masyhur saat silaturahim ke Bappeda Provinsi Jambi mengatakui cukup miris melihat tingkat kesejahteraan petani dua tahun terakhir. “Hampir semua NTP sub sektor pertanian di Jambi belum diatas indeks 100 yang mencerminkan titik seimbang. Hanya kelompok perikanan dua bulan terakhir 2010,” ujar Henri.

Padahal menurutnya, sekitar 55 persen penduduk Jambi bergerak disektor pertanian yang memberi kontribusi hingga 25 persen pada struktur pertumbuhan ekonomi Jambi tahun 2010. “Jika memang infrastruktur yang menjadi kendala utama, tentu harus mendapat perhatian serius,” sambung Ketua DPW PKS Provinsi Jambi ini.

Dia meminta, Pemerintah Provinsi Jambi melalui instansi terkait, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum fokus pada penanganan infrastruktur jalan dan jembatan. Setiap tahun, ratusan miliar APBD Provinsi dikucurkan untuk menangani persoalan jalan. Namun tetap saja, tidak ada penambahan ruas jalan baru di Jambi. Dana yang ada, lebih pada penanganan ruas jalan dalam kondisi rusak berat, sedang hingga rusak ringan.

“Sekarang bagaimana kita fokus menyelesaikan jalan misalnya dua tahun pertama ini. Sehingga anggaran setiap tahun tidak tersedot habis hanya untuk menuntaskan persoalan jalan,” tegasnya.

Kepala Bappeda Provinsi Jambi, Fauzie Ansori mengakui persoalan infrastruktur menjadi kendala utama meningkatkan kesejahteraan petani di Jambi. Bahkan menurutnya, kondisi ini membawa kerugian cukup besar bagi petani.

“Sekitar Rp 350 miliar uang petani hilang setiap tahun karena harga beli TBS lebih rendah Rp 5 dari provinsi tetangga,” ujar Fauzie. Fenomena ini, menurut Fauzie sudah lama terjadi. Harga beli Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit rata-rata lebih rendah Rp 5 dari daerah lain. Dengan luas kebun sawit mencapai 448 ribu hektar dan produksi 1,2 juta ton CPO, pengurangan nilai ini berjumlah sangat signifikan bagi Jambi.

“Kami sepakat dengan usulan untuk fokus menyelesaikan infrastruktur dalam dua tahun pertama. Seyogyanya ini sudah dituangkan dalam RPJMD 2010-2015 Jambi,” sambungnya.

Menyikapi rendahnya Nilai Tukar Petani (NTP) Jambi, Fauzie mengajak semua stakeholder memiliki kesamaan mewujudkan visi Jambi EMAS 2015.  “Ini kerja bersama antara semua instansi dengan dukungan legislatif. Kami butuh kerjasama yang saling mengisi dan membangun,” tutup Fauzie.(**)


NEGERI CINTA BATANGHARI

Sekapur Sirih:
CINTA ALA JAMBI
Oleh Berlian Santosa - Ketua Forum Lingkar Pena Jambi

Negeri Cinta Batanghari. Adalah sebuah buku antologi yang berisikan 25 penulis muda Jambi dengan semangat menyosialisasikan sebuah negeri nan elok dengan sejarah dan budaya Melayu yang tinggi yang dipersembahkan melalui karya fiksi.

Jambi bukan saja terkenal dengan Batanghari sebagai sungai terpanjang di Sumatera; mengalir dari hulu di daerah Sumbar sampai bermuara di Selat Berhala di Laut Cina Selatan, Gunung Kerinci sebagai gunung tertinggi di Sumatera dan kedua tertinggi di Indonesia . Atau Candi Muaro Jambi sebagai kawasan candi terluas se-Asia Tenggara dan menjadi situs purbalaka yang dicagarkan oleh pemerintah dan dunia. Bukan hanya itu.

Sebagaimana adagium adat Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Batangnyo Alam Rajo yang artinya “Pucuk” yaitu ulu dataran tinggi, “Sembilan Lurah” yaitu sembilan negeri atau wilayah dan “Batangnyo Alam Rajo” yaitu daerah teras kerajaan Jambi yang terdiri dari duabelas suku atau daerah menghasilkan ragam budaya dan sejarah lama dan dalam, Jambi memiliki banyak khasanah yang belum tergali dan terekspos dengan baik di kancah nasional terutama khazanah budayanya.

Di sini, 25 penulis muda Jambi berkeinginan kuat untuk menyuguhkan kepada pembaca yang haus akan informasi tentang perkawinan multi budaya dan kearifan lokal Jambi, baik masa kini maupun masa lalu dengan cerita yang beragam.

Walau latar yang dipakai para penulis ini memang tentang Jambi, namun  masalah yang digarap sangatlah beragam; tentang kehidupan sosial dan kritik sosial, teluh, Orang Rimba (Suku Anak Dalam), budaya masyarakat di seberang kota, keterkaitan manusia dengan alam, menyinggung tentang transmigrasi, kemiskinan, bahkan politik dan percintaan remaja. Semua ada di buku ini.

Uniknya, dari 25 penulis ini ternyata kurang dari 10% pernah masuk media lokal dan nasional. Selebihnya adalah “pemain baru” dalam kancah kepenulisan dan belum pernah memublikasikan karyanya.

Buku ini jelas berbicara tentang cinta. Tidak hanya kepada manusia namun juga keterkaitan kepada alam, budaya, adat istiadat dan lingkungan di negeri Jambi. Sudah sepatutnya lahir naskah-naskah lokal demi memperkaya khasanah literasi nasional yang tentunya Jambi pun dapat melahirkan tulisan apik berikut penulis-penulis baru yang berkompeten.

Jika Jambi sangat sedikit menghadirkan naskah fiksi (selama ini mungkin lebih banyak ke arah kumpulan puisi) untuk dikonsumsi pembaca nasional, semoga buku ini menjadi jawaban atas kekeringan itu. Diharapkan pula, dengan hadirnya buku ini menjawab tantangan, bahwa Jambi bisa bersuara di tingkat nasional dengan naskah yang layak, cantik dengan nuansa Melayunya, indah dan beragam dengan sejarah dan budayanya yang elok.

***

APA KATA MEREKA:
”Saatnya para penulis di luar Jawa mewarnai kesusastraan Indonesia. Mereka membawa warna lokal yang khas dan memperkaya pembaca. (Gol A Gong, Ketua forum Taman Bacaan masyarakat Indonesia)

 “Mereka adalah potensi yang ter(di)sembunyikan oleh hegemoni kebudayaan lokal. Teruslah melangkah. Masa depan kebudayaan (sastra) Jambi ada pada mereka.” (Nurul Fahmy, Redaktur Budaya Koran Jambi Independent).

“Kawan-kawan penulis muda FLP Jambi berupaya menghadirkan wajah lokal untuk menarik pembaca tentang kearifannya.” (Izzatul Jannah, Ketua Umum Forum Lingkar Pena Pusat)

“Negeri Cinta Batanghari menunjukkan bahwa Jambi kaya akan tema eksotik. Dan pengarang-pengarang dalam buku ini, bukan sekedar berbakat, tapi juga berani mengekspresikan kegelisahan dengan menjadikan tradisionalitas sebagai unsur pembangun karya. Tabik! (Benny Arnas, Cerpenis, Peraih Krakatau Award 2009&2010)

“Negeri Batanghari? Jadi ingat sungai Batanghari Sembilan, yang mengalir di tanah Jambi. Sukses buat kumcernya. Smg kumcer serupa bermunculan dr tiap daerah. Membawa tema kearifan lokal.” (**)

***


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More