MAHKAMAH KONSTITUSI:PASANGAN SUKA HAMDI AKHIRNYA BERHASIL MELENGGANG KE KURSI BUPATI DAN WAKIL BUPATI KABUPATEN TEBO *MONEY POLITIC TIDAK MENGARAH PADA PELANGGARAN SECARA TERSTRUKTUR ,SISTIMATIS, DAN MASIF*DALIL-DALIL KEBERATAN PASANGAN YOPI-SAPTO TIDAK TERBUKTI DAN TIDAK BERDASARKAN HUKUM * HUMAS PROVINSI KEBOBOLAN BERITA ISTRI GUBERNUR AKIBATNYA NAMA BAIK GUBERNUR JAMBI TERCEMAR*SAMISAKE:100 juta untuk pendidikan di tiap kabupaten*WAKIL GUBERNUR:Arah Pembangunan Provinsi Jambi berwawasan Lingkungan*SAMISAKE:22 Milyar untuk bedah rumah di tiap kabupaten*Pemerintah Jambi beri bantuan dana 3,6 milyar untuk renovasi gedung Taman Budaya*Warga masih saja mengeluh soal pelayanan PDAM Tirta Mayang *HBA optimes Jambi Emas terwujud*2011 Pemerintah Jambi gulirkan dana bantuan 5 juta untuk Pengrajin*Pemprov Jambi dan PTPN VI bersama membangun Jambi*SAMISAKE:Satu Milyar Satu Kecamatan * Anggota Korpri harus Netral *

3/31/2011

KEDATANGAN WAKIL PRESIDEN BUDIONO DI JAMBI DI DEMO MHASISWA



MASA DEMO KEDATANGAN WAPRES

Di beberapa titik kota Jambi masa  dari kalangan mahasiswa seperti KAMMI,SERAPUT,BEM KBM UNJA  BEM IAIN Jambi mengelar aksi demo atas kedatangan Wakil Presiden Republik Indonesia Budiono,Kedatangan Wakil Presiden tersebut atas undangan Gubernur Jambi dalam rangka peresmian JAMBI EXPO 2011(Jambi Emas) di arena MTQ Bandara Sultan Thaha  Syarifudin Jambi.Aksi demo di UNJA Telanaipura sempat d hadang pihak kepolisian ,sbelumnya aksi ini para pendemo sedang  menuju persimpangan BI(komplek perkantoran Gubenur).Aksi hadang oleh pihak polisi akhirnya para pendemo masuk kedalam kampus UNJA dan terjadi aksi pembakaran ban bekas di pintu masuk UNJA.

Para pendemo yang juga mengelar aksi di persimpanganBIi,mereka dalam aksinya menolak kehadiraan Wapres datang ke Jambi.para pendemo mengecam bahwa  Wapres beserta Presiden  gagal dalam menjalankan  menuntaskan kasus Bank Century karena tidak membawa perubahaan yang signifikan terhadap per ekonomian khususnya provinsi jambi dan kesejahteraan rakyat.
Kedatangan wapres dann aksi demo sempat menganggu aktifitas penguna jalan,sepanjang jalan arah ke kampus I IAIN ,komplek perkantoran dan UNJA  sempat mengalami kemacetan  namun sempat teratasi oleh pihak kepolisian.
Saat berita ini di turunkan pukul 11:00 wib siang ini(jum”at 01 april 2011) aksi demo masih berlangsung sedangkan peresmian JAMBI EXPO 2011 berjalan sesuai ketentuan.  (**)                                                        


3/14/2011

KERTAS KAMPAYE AMPUH DI TENTANG TIGA LSM



Aliansi Masyarakata Peduli Hutan(AMPUH)memberikan pernyataan kertas kampaye tertanggal 14 Mret 2011 yang mana dalam kertas kampaye tersebut memberikan wacana kritis bahwa Gubernur Provinsi Jambi merencanakan pengerukan sungai Batanghari,pengerukan tersebut akan di lakukan oleh  salah satu perusahaan synco global.Di hari yang sama kertas kampaye AMPUH di soalakan oleh bebrapa LSM.Menurut steatment Ketua LSM SOMASI ,Fikri Riza mengatakan bahwa,AMPUH bertujuan tidak jelas,di satu sisi mendukung perambahan hutan di TNKS,di sisi lain dia (Rivani Noer)menghambat program yang sudah di canangkan oleh pemerintah provinsi Jambi,kembali Ketua Lembaga Swdaya Masyakarakat dari PRAJA indonesia ,M.Arpani mengatakan pihaknya meminta agar pandangan ini harus obyektif,ditambahkan lagi sejauh mana  pandangan mereka soal penyelesaian konflik lahan,sedangkan konfik lahan  yang mereka(team yang tergabung dalam konflik lahan tersebut) mengurus  konlik tersebut belum selesai-selesai,Kembali lagi menurut KetuaLSM GPMJ,Akmal  Khatab, wajib mendukung program pengerukan sungai Batanghari dengan dasar kajian1.Apek kehidupan masyakarat.2.Potensi banjir.3.Transportasi.4.PAD.
Dengan adanya pengerukan sungai itu,dapat melanjutkan aKtifitas mereka dalam mencari kehidupan di sungai itu sendiri.Atas empat dasar ini kami mendukung program pengerukan.dari tiga lembaga yang telah menyatakan bahwa mereka berkesimpulan mempertanyakan keseriusan dan sikap dari AMPUH ini terhadap cinta tanah air.Kami memandang openi yang di keluarkan oleh AMPUH tidak mendukung dari program dan aspek kebijakan daerah,ini ada apa?
Rencana pengerukan ini harus di lakukan Pemerintah Provinsi Jambi secara hati-hati dengan pendekatan multi-prospektif.Gubernur Provinsi Jambi,HBA selayaknya meminta SKPD melakukan proses konsultasi public,transfaran dan mencakup banyak pihak terhadap rencana ini,sebagai harapan baru rakyat Jambi,HBA  harus melakukan terobosan bahwa proyek pembangunan akan mendapatkan persetujuan luas dan bebas dari warga yang akan merasakan dampak kuat dari pelaksanakan  pembangunan serta praktek pembangunan akan  berkonstribusi pada strategi reduksi karbon dan minimalisasi konflik.
Rencana pengerukan sungai Batanghari,seharusnya diiringi dengan prioritas peninjauan izin dan evaluasi terhadap praktek ,juga  bisnis kelapa sawit dan batu bara,yang kemudian dilakukan resolusi atas semua problem-problem di industry ini,baik menyangkut penataan ruang(konsesi),konflik social dan lahan,juga pengelolaan  dampak ,elain itu yang sering di abaikan.tetapi penting dilakukan adalah mengkalkulasi daya tampung dan daya dukung lingkungan di Provinsi Jambi untuk pengembangan bisnis di sektor batu bara(tambang).Kertas kampaye inilah yang di tentang oleh beberapa LSM  di Jambi.(**)


3/02/2011

KWI JAMBI GELAR PENGHIJAUAN 2011







Komunitas Wartawan Investigasi (KWI)Jambi kembali mengelar kegiatan penananman bibit pohon  ,kegiatan ini sebagai  bentuk kepedulian terhadap lingkungan khususnya di Provinsi Jambi.Namun kegiatan ini tidak terlaksana maksimal jika pihak-pihak pendukung dan stakeholder tidak serius untu k memberikan suportnya kepada panitia pelaksana.Pelaksanaan kegiatan ini akan di berikan di beberapa kabupaten dan kota,yang mana daerah tersebut layak di tananami biibit pohon,seperti daerah lingkar selatan,lingkar barat,sebrang kota Jambi,sepanjang sungai batanaghari,sepanjang danau sipin dan banyak yang lainnya lagi,penanaman ini juga akan di gelar di wilayah-wilayah hutan gundul dan sepanjang jalan lintas timur,lintas barat dan lintas tengah.

Tahun 2010,KWI Jambi telah melaksanakan kegiatan serupa di Kecamatan Pelayangan Sebrang kota Jambi,dengan melibatkan Kepala Balai Lingkungan Hidup Daerah Kota Jambi (BLHD)dan jajaran pejabat kecamatan seperti Kapolsek,Danramil,Camat,Ketua Adat dan masyarakat dan masing-masing Kelurahan di Kecamatan Pelayangan.Kegiatan penanaman bibit pohon tersebut adalah jenis bibit pohon mahoni denagn jumlah yang di berikan di  kecamatan tersebut  mencapai  kurang lebih dua ribu bibit pohon.Bibit pohon ini berasal dari bantuan Hotel Mega Indah  di kota Jambi.Namun bantuan berupa bahan makanan,minuman dan sebagainya juga telah diberikan kepada pihak-pihak pendukung lainnya,seperti:Walikota,Petochina,Pt PertaminaUBEP,Depot Pertamina,Jasa Raharja Putra,Jasa Raharja dan Dinas-dinas Pemerintahaan.

Kegiatan tahap kedua ini akan di gelar bertepatan dengan hari kehutanan sedunia tanggal 20 Maret sampai 27 Maret 2011 di beberapa tempat,hal ini juga tidak terlepas dari pihak pendukung,menurut Ketua Panitia Irwan Hendrizal,SH megatakan kepada wartawan bahwa kegiatan ini sudah berlangsung  dengan tahap pertama adalah mencarian dana tambahan kepada pihk-pihak swasta dan pemerntahan,jika mencapai target yang sudah di tentukan,kami akan mengelar sesuai konsep yang di rencanakan  sedangkan  bantuan yang kami terima, hingga Kamis(03/03/11)satupun belum mendapatkan bantuan ,baik itu materi maupun bibit pohon,jenis bibit pohon yang akan kami tanan adalah jenis pohon buah-buahan,tujuannya adalah untuk dapat di manfaatkan oleh warga namun kami tetap upaya semaksimal mugkin,karena kami sangat peduli kepad lingkungan ,apalagi jambi sebagai daerah yang di penuhi dengan hutan-hutan.Di lihat dari sudut pandang bahwa hutan jambi makin hari makin mengkwatirkan.perlu di hijaukan kembali,jelasnya(**)


2/28/2011

Kode Etik Menjaga Independensi



            Kode Etik Jurnalistik menempatkan independensi sebagai prinsip pertama yang harus dimiliki jurnalis, juga media, dalam menjalankan profesinya. Sebagai mata dan telinga masyarakat, sikap independen jurnalis dan media sangat penting agar publik bisa mengambil tindakan berdasarkan informasi yang betul-betul obyektif, bukan dari informasi yang lahir karena keberpihakan jurnalis dan media terhadap kepentingan kelompok tertentu –apakah itu kepentingan pemilik media atau pemasang iklan.
           
Sikap profesional juga tak kalah penting bagi jurnalis dan media. Adanya Kode Etik Jurnalistik, sebagai bagian dari etika profesi, sejatinya diharapkan dapat menjadi panduan bagi jurnalis dalam menjalankan profesinya, dan media saat mengoperasionalkan medianya. Salah satu sikap profesional yang disebut tegas dalam kode etik adalah tak menyalahgunakan profesi dan tak menerima suap. Prinsip-prinsip penting ini memang merupakan soal yang menjadi kepedulian -–kalau bukan keprihatinan-- komunitas media setelah era Orde Baru.
            Tantangan yang dihadapi media saat ini relatif berbeda dengan di masa Orde Baru. Negara, yang di masa lalu merupakan momok penting bagi kebebasan pers melalui sensor dan pembredelan, kini tak seperkasa dulu. Namun, ancaman sensor dan intervensi tak lantas menghilang. Saat ini, sensor itu bisa datang dengan cara dan oleh pelaku yang berbeda. Salah satunya adalah dari pemasang iklan dan pemilik media. Inilah yang menjadi salah satu tantangan besar bagi independensi dan profesionalisme media saat ini.
           
Pasca reformasi, sejarah pers di Indonesia mengalami banyak kejadian yang signifikan yaitu berkembangnya kebebasan pers, kebebasan berserikat bagi para wartawan, dan peningkatan jumlah penerbit pers yang luar biasa. Data terakhir dari SPS menunjukkan, jumlah media cetak di Indonesia mencapai 829. Angka yang luar biasa.
            Namun masih banyak masalah di balik capaian-capaian itu. Kebebasan pers tidak serta merta berhubungan lurus dengan profesionalisme dan independensi media massa. Masih banyak terjadi praktek-praktek jurnalistik yang melanggar kode etik jurnalistik. Salah satunya adalah hubungan yang tidak profesional antara jurnalis dengan pemerintah. 
            Survei AJI pada 2008 yang meliputi 80 media  di 17 kota menunjukkan situasi yang masih sangat menyedihkan menyangkut kesejahteraan jurnalis. Dari 400 responden yang diwawancarai, sebagian besar gaji jurnalis berada pada rentang Rp 600 ribu – Rp 999 ribu/bulan (22,5%), Rp 1 juta – Rp 1,399 juta/bulan (25%), dan Rp 1,4 juta – 1,799 juta/bulan (16,5%). Mereka yang bergaji adi atas Rp 5 juta/bulan hanya berjumlah 1,3%. Bahkan masih ada jurnalis yang digaji di bawah Rp 200 ribu.
            Kesejahteraan yang rendah merupakan pemicu munculnya praktik pemberian suap kepada jurnalis, selain keinginan politik dari pemerintah untuk mengontrol berita. Simbiosis tidak profesional itu masih terjadi. Survey yang sama dari AJI menunjukkan bahwa sekitar 65% jurnalis menerima suap (amplop).


Independensi Jurnalis




Oleh Ilham MHD Yasir
(Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Pekanbaru)

            "... DI tangan-orang yang moralitasnya rendah, kebebasan pers menjadi kebebasan menjual berita sesuai selera pasar. Di tangan wartawan busuk, kebebasan pers menjadi kebebasan memperdagangkan berita sebagai sebuah komoditas".          Demikian T Yulianti mengakhiri opininya di Kompas, Februari 2004 yang dikutipnya dari buku News For Sale milik Malon Mangahas, seorang mantan redaktur Manila Times.
           
            Sementara Tony Kleden, menulis "... dalam jurnalistik, berlaku hukum tak tertulis. Wajah media adalah wajah pengelolanya. Medianya baik tentu pengelolanya profesional. Medianya setengah-setengah tentu pengelolanya juga setengah-setengah hati. Medianya amburadul, tentu seperti itulah kondisi sang pengelolanya."

Pengertian Independensi
            Berasal dari kata Independen. Dalam bahasa Inggris diartikan sebagai ”Independent” (merdeka, mandiri, tidak bergantung dengan orang lain) dan  ”Independence”  (kemerdekaan, kemandirian).[1]  Jurnalis independen adalah jurnalis yang mandiri, merdeka dan tak bergantung kepada pihak mana pun. Ia punya sikap mandiri untuk mempertahankan prinsip kebenaran (lihat 9 Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach (mantan jurnalis Atlanta Journal Constitution) dan Tom Rotesentiel (mantan jurnalis The Los Angeles Times)).[2]  
           
            Aliansi Jurnalis Independen (AJI) merumuskan Independensi berdasarkan Deklarasi Sirnagalih, 7 Agustus 2004 bahwa Pers Indonesia   menolak segala bentuk campur tangan, intimidasi, sensor, dan pembredelan pers yang mengingkari kebebasan berpendapat dan hak warga negara memperoleh informasi. Bahwa pers Indonesia berangkat dari pres perjuangan yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, serta melawan kesewenang-wenangan. Kemerdekaan ini oleh AJI dituntut dengan menolak wadah tunggal organisasi profesi wartawan (jurnalis).[3]


               

            


Menjaga Independensi



            Ada beberapa prinsip, tapi satu hal yang paling penting adalah: wartawan (atau bagian redaksi) harus memegang kata akhir untuk urusan berita – bukan bagian bisnis. Bukan juga pemilik surat kabar. ”Ini merupakan prinsip yang jelas!” kata Bill Kovach. ”Aturan ada pada saya, dan kami akan memveto advertorial jika kami melihat ada masalah di sana. Kami juga harus melihat untuk memastikan mereka diberi label iklan secara pantas,” kata Redaktur Eksekutif Washington Post Leonard Downie Jr, tentang bagaimana mereka menegakkan independensi tersebut.
            Bagi wartawan senior Andreas Harsono sering memberi contoh bagaimana prinsip dan praktik independensi ditegakkan. Suatu saat dia diminta mengonsep dan kelak mengelola sebuah majalah politik. ”Seperti Atlantic Monthly itulah,” kata pengasuh Yayasan Pantau yang dulu mengelola majalah Pantau ini. Majalah yang dirujuk itu menulis isu-isu politik hangat, dengan analisa yang tajam tetapi dengan bahasa yang mudah dicerna.
            Selesai hitung-hitungan modal, Andreas mengajukan satu syarat penting: redaksi harus independen dari pemilik modal, termasuk boleh mengkritik dan memberitakan kalau pemilik modal salah. Pemodal sulit menerima syarat ini. Saya tak tahu apakah karena syarat itu kemudian majalah tersebut belum terbit sampai saat ini. Tapi, bagi Andreas sepertinya memang lebih baik tidak terbit daripada harus berkompromi dalam hal independensi ini.
            Dapat dibayangkan bagaimana ”tersiksa” redaksi ketika pemilik modal memanfaatkan suratkabarnya untuk kepentingan lain, bisnis di luar media misalnya. Saya membayangkan bagaimana independensi sudah benar-benar hilang ketika berita-berita di suratkabar diarahkan untuk menekan pihak-pihak lain demi kepentingan si pemilik modal. Ini adalah pelecehan pada kebebasan pers.
            Kita pasti ingat dengan adagium ini: Kemerdekaan pers adalah milik masyarakat. Kemerdekaan itu dipinjamkan dan dipakai oleh pekerja pers, untuk melayani masyarakat si pemilik kemerdekaan itu. Undang-undang Pers Nomor 40 tahun 1999 menegaskan itu: Kemerdekaan Pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.[1] (Pasal 4 Ayat 1).


                [1] Lihat pasal 4 (1) UU No 40/1999 tentang Pers


2/20/2011

Gubernur beri penghargaan pada tujuh penulis cilik



Jambi, Gubernur Jambi Drs. H. Hasan Basri Agus, MM, memberikan penghargaan kepada delana penulis cilik Jambi yang telah berhasil meneribitkan Antologi Cerpen “Kesomobongan Fira”. Penghargaan diserahkan gubernur pada acara peluncuran buku tersebut, Sabtu (29/1) bertempat di Yayasan Pendidikan Nurul “Ilmi, di jalan Julius Usman Kelurahan Pematang Sulur Kota Jambi.
Delapan penulis cilik yang sekolah di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Nurul ‘Ilmi yang mendapatkan penghargaan dari gubernur ini masing-masing terdiri dari; Dina Pratiwi pelajar kelas V yang menghasilkan cerpen berjudul “Kesombongan Fira”, Nurul Anisah kelas V dengan cerpen berjudul “Surat Rahasia”, Wulan Anisa dengan cerpen “My Mom is HERO”, Siti Ramadina kelas VII dengan cerpen “Cinta yang Kesepuluh”, Abdan Malaka kelas VI dengan cerpen “A Happy Family”, Jihan Romadhan kelas IV dengan judul cerpen “Perjuangan Untuk Sahabat”, Rafli Khairul Anam kelas VI dengan judul cerpen “13 Februari Bina” dan Mega Juita kelas VI yang menghasilkan cerpen “pengakuan terindah”.
Seusasi acara peluncuran Antologi Cerpen “Kesomobongan Fira, gubernur menyampaikan rasa bangganya atas prestasi yang telah ditunjukkan kedelapan anak-anak Jambi tersebut, “ yang pertama, saya merasa bangga atas perkembanagan daeri Yayasan Pendidikan Islam Terpadu Nurul ‘Ilmi atas kreasi dan kreaktivitas dalam meningkatkan sumberdaya anak-anak kita, dan yang kedua yang lebih membanggakan prestasi yang telah ditunjukkan oleh anak-anak kita yang belajar di sekolah ini, seperti delapan anak tadi yang telah berhasil menerbitkan buku kumpulan cerpen, yang isinya sangat bagus, berbobot dan mendidik, saya sudah sempat membaca sebagian” jelas gubernur.
Disampaikan juga oleh gubernur, buku kumpulan cerpen yang dihasilkan anak-anak ini, saat ini baru diedarkan di lingkungan sekolah, kedepan akan diusahan untuk memasarkan ke sekolah-sekolah yang ada di Jambi, dan hal ini sudah dibicarakan dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, karena di Dinas tersedia dana pengadaan buku,  disamping harus diusahakan mendapatkan hak cipta bagi kedelapan anak-anak ini, dengan demikian tentunya anak-anak ini sudah bisa memperoleh pengahasilan. Dengan demikian maka ini akan membuat anak-anak akan semakin terpacu untuk lebih kreaktif, dengan demikian diharapkan akan menjadi pemicu bagi sekolah-sekolah lainnya, baik negeri maupun swasta untuk bisa meraih prestasi, baik di tingkat daerah, nasional bahkan lebih dari itu.  
Sedangkan Kepala Dinas pendidikan Provinsi Jambi Idham Kholid, pada kesempatan ini menyampaikan apresiasinya atas prestasi yang diraih para pelajar di sekolah Nurul ‘Ilmi ini, disamping delapan anak yang telah berhaisl menerbitkan kumpulan cerpen, ada juga siswanya yang telah berhasil meraih juara penulisan puisi tingkat nasional dan meraih piala Presiden RI, kemudian pinalis lomba melukis tingkat nasional. Bahkan pada kesempatan ini juga telah diperlihatkan oleh anak-anak yang telah menampilkan beberapa kreaktivitas termasuk tiga anak yang membawakan acara pada acara ini, terlihat demikian baiknya dalam membawakan acara, masing-masing berbahasa Indonesia, Ingris dan Arab.
Sebelumnya Ketua Yayasan Pendidikan Islam Terpadu Nurul ‘Ilmi, Hendri Mansyur menyampaikan, bahwa apa yang dihasilkan anak-anak adalah sepenuhnya kreasi anak-anak, mulai dari menulis, ilustrasi dan sampulnya. Dan apa yang dihasilkan memang apa yang ditemua anak-anak sehari-hari, ujarnya. Namun tidak semua bisa menulis runtun seperti apa yang dihasilkan anak-anak tersebut. (Sunarto)


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More